Jejak-jejak Peninggalan Sejarah Di Bandung Pada Masa Kolonial

5 Likes Comment
Braga Tempo Dulu

Bandung merupakan rumah bagi hampir dua juta jiwa. Menginjak usia dua abad, kota yang dijuluki sebagai kota kembang ini mengalami banyak perkembangan yang sangat pesat. Kini, Bandung lebih dikenal sebagai kota wisata. Berbagai wisata Kota Bandung menjadi tujuan wisatawan lokal maupun asing. Bandung juga kerap menjadi tujuan wisata untuk menikmati suasana sejuk pegunungan khas bumi priangan. Dibalik segala perkembangan yang terjadi dikota ini, Bandung memiliki cerita panjang akan masa lalunya.

Bandung, sebuah kota yang menjadi saksi bagaimana cengkraman penjajahan dari bangsa lain terhadap Bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, Bandung juga menjadi satu wilayah penting perkembangan kerajaan-kerajaan Nusantara di masa klasik. Bahkan, Bandung juga menjadi tempat hunian bagi manusia-manusia di jaman pra sejarah.

Lintas Masa Bandung Pada Masa Kolonial

Berada di ketinggian 768 mdpl, kota seluas 167 km ini telah berevolusi menjadi kota besar berpenduduk padat. Sejumlah bangunan-bangunan di Bandung adalah penanda jaman. Banyaknya bangunan yang tumbuh dan berkembang menandakan banyaknya pihak yang berkontribusi selama berates-ratus tahun. Bagi beberapa kalangan sejarawan, Bandung merupakan sebuah kajian yang sangat menarik. Melalui berbagai sumber-sumber tertulis dan peninggalan yang ada, banyak yang bisa ditelusuri dari ibukota provinsi Jawa Barat tersebut.

Menurut berbagai peneliti atau sejarawan, ekspansi wilayah hunian yang ada di Bandung, tidak lepas dari campur tangan Pemerintah Kolonial Belanda.  Masa Pemerintahan Kolonial Belanda ini terjadi pada masa 1641 hingga 1945.

Sekitar 1641, menurut pejelajah asal Belanda yang ditulis dalam sebuah laporan perjalanan menyebutkan bahwa ketika ia datang ke pegunungan priangan terdapat sebuah desa bernama Bandong. Di desa yang berada di wilayah pegunungan tersebut, penjelajah asal Belanda menyebutkan sudah ada sekitar 25 rumah yang mencakup Desa Bandong tersebut.

Disamping itu, Jalan Raya Post yang merupakan rintisan dari pemerintahan Jendral William Deandels adalah salah satu pembuka pintu isolasi Kota Priangan pada perkembangannya. Deandels yang kala itu merupakan Bangsa Penjajah dari Belanda bisa dikatakan berjasa dalam hal pembangunan Kota Priangan. Ketika itu, Bandung dijadikan ibukota oleh pemerintahan Belanda, sehingga berbagai infrastruktur dilakukan dan mempermudah berbagai pembangunan yang ada di kota kala itu.

Selain pemerintahan Belanda yang dipimpin oleh Jendral William Deandels, ada juga pribumi yang juga berjasa dalam pembangunan kota priangan ini. Pada tahun 1810, ketika ibukota pemerintahan Belanda dipindahkan ke Bandung, ada campur tangan Bupati Kota Bandung yang bernama Rd. Adipati Wiranatakusumah II yang turut membangun berbagai infrastuktur pertama di kota priangan tersebut.

Berbagai pembangunan pertama yang dilakukan oleh Rd. Adipati Wiranatakusumah II ini dilakukan, seperti masjid, pasar, dan pendopo. Masjid, pasar, dan pendopo tersebut kita kenal saat ini sebagai kawasan Dalem Kaum atau alun-alun Bandung.

Salah satu tonggak pertama kali pembangunan kota priangan dilakukan, Masjid Agung lah yang hingga saat ini kokoh berdiri ditengah kota. Disebelah barat alun-alun masa lalu, berdiri bangunan pertama di Bandung, yakni Pendopo. Dibangun pada masa pemerintahan Rd. Adipati Wiranatakusumah II, pendopo ini digunakan sebagai pusat pemerintaha Bupati pada saat itu.

Kemudian, seiring dengan perintah Gubernur Jendral William Deandels, ibukota kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak yang saat ini dikenal sebagai wilayah Dayeuh Kolot dipindahkan ke kawasan alun-alun Kota Bandung sekarang. Berpindahnya kota kabupaten pada tanggal 25 September 1810, diperingati sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

Sekitar tahun 1850-an, Bandung banyak dijadikan sebagai kota tujuan peristirahatan. Pada masa itu, kalangan pengusaha yang didominasi sebagai pengusaha teh dikawasan dataran tinggi, seperti Ciwidey pada akhir pekan banyak menghabiskan waktunya berada di Bandung. Dan untuk menunjang hal tersebut maka dibangunlah hotel-hotel di Bandung. Sekitar 1882-an dibangunlah Hotel Preanger dan Hotel Savoy Homann.

Kemudian dalam pergaulan sehari-hari, pada masa itu terdapat Soceteit Concordia yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka. Gedung Merdeka kala itu merupakan tempat hiburan bagi kalangan Eropa dan kalangan pribumi kelas atas.

Pada tahun 1895, Bandung pada masa kolonial juga sempat diproyeksi untuk menjadi ibukota pemerintahan Hindia-Belanda. Batavia yang kala itu menjadi ibukota pemerintahan Hindia-Belanda dianggap sudah tidak nyaman dan aman untuk ditinggali oleh kalangan Belanda dan Eropa. Oleh karena itulah, pemerintahan Hindia-Belanda membangun pusat pemerintahan dan perguruan tinggi di Bandung.

Gedung Sate yang sekarang ini kita kenal, dibangun pada tahun 1920. Ketika pertama kali dibangun, gedung tersebut disebuat sebagai Gouvernements Bedrijven (GB). Pembangunan Gedung Sate ini memakan waktu sekitar 4 tahun dan menghabiskan dana sebesar 6 juta Gulden. Jumlah biaya yang dikeluarkan ini kemudian dituangkan dalam simbol tusuk sate diatas atap gedung berjumlah 6.

Seiring dengan pembangunan gedung sebagai pusat pemerintahan Hindia-Belanda tersebut, dibangun juga bangunan-bangunan sekolah dan perguruan tinggi. Dibangunlah pada waktu itu THS yang kini lebih dikenal sebagai ITB.

Peninggalan kolonial lain di Kota Bandung terletak di kawasan Dago Pakar yang nama lainnya adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Terletak di sebelah utara Kota Bandung, kawasan ini berfungsi sebagai sarana edukasi, rekreasi, dan konservasi alam. Didalam taman hutan ini, terdapat dua gua peninggalan penjajahan Belanda dan Jepang di masa lalu.

Pada masa penduduksn Belanda, perbukitan Pakar sangat menarik bagi strategi militer, karena lokasinya yang terlindung dan dekat dengan pusat Kota Bandung. Pada jaman dahulu, orang-orang yang membangun gua ini membuat lorong-lorong yang dimaksudkan sebagai ventilasi udara. Uniknya, di gua Belanda, lorong yang digunakan untuk ventilasi udara hanya dibuat satu, karena mereka membuat lorong utamanya yang cukup besar yang digunakan sebagai ventilasi udara juga.

Dalam pembuatan gua tersebut, terdapat satu ruangan yang digunakan oleh Pemerintahan Belanda sebagai ruangan interogasi bagi tahanan perang. Ruangan tersebut juga dipergunakan sebagai ruangan pemeriksaan bagi para pekerja rodi yang membangkang.

10 Maret 1942, angkatan perang Hindia-belanda menyerah tanpa syarat pada tentara Kerajaan Jepang. Tentara Jepang, lalu membangun gua tambahan sebagai jaringan untuk memperkuat benteng pertahanan di kawasan Pakar. Gua Jepang sendiri memiliki 4 pintu dan dua saluruan udara. Konon, pembangunan gua ini dilakukan oleh para pekerja paksa yang kala itu disebut sebagai Romusha.

Selain lintas masa Bandung pada masa kolonial, Bandung juga menyimpan peninggalan pada masa sejarah dan pra sejarah. Untuk mengetahuinya, simak artikel selanjutnya.

Baca juga : Tempat Wisata di Bandung Utara untuk Menyegarkan Mata dan Pikiran

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *