Gunung Tangkuban Parahu, Legenda Yang Nyaris Padam

31 Likes 1 Comment
Tangkuban Perahu

Siapa yang tak kenal Gunung Tangkuban Parahu? Gunung tertinggi dan terbesar di wilayah Bandung yang kini menjadi tempat wisata berskala nasional ini, sebenarnya sama besarnya dengan legenda yang menyertainya. Namun sayang, seiring perkembangan zaman, legenda besar ini seolah padam di antara ramainya kunjungan wisata. Hal terseut terbukti dengan kurangnya pengetahuan generasi sekarang terhadap legenda setempat.

Bukan lagi hal yang aneh, jika banyak yang mengatakan bahwa legenda hanyalah cerita rakyat (folklore) yang jauh dari kebenaran. Ditambah dengan kenyataan tentang pola pikir masyarakat yang dianggap lebih modern dan realistis. Maka, folklore tidak lagi ditanggapi sebagai sesuatu bernilai.

Namun jika dihadapkan pada masalah keilmuan, folklore masih dianggap sebagai sumber kekayaan pengetahuan. Bukan hanya itu, folklore dianggap memiliki atau mengandung nilai dan norma yang sangat tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini pada akhirnya berhubungan juga dengan kearifan lokal masyarakat penganut folklore tersebut.

Beberapa nilai yang bisa diambil dari legenda Gunung tangkuban Parahu adalah:

1. Ucapan adalah sumpah atau janji yang harus ditepati. Karenanya, dalam legenda ini diceritakan bahwa Dayang Sumbi sebagai tokoh utama, bersedia menikahi anjing sakti yang bernama si Tumang demi memenuhi janji atau sumpah yang telah diucapkannya.

2. Kearifan lokal untuk menjaga kesehatan dan obat awet muda dengan memakan dedaunan mentah seperti yang dilakukan Dayang Sumbi. Jika dihubungkan dengan budaya masyarakat Sunda yang gemar memakan lalapan, kisah ini bisa dianggap relevan dengan situasi budaya setempat.

3. Ajaran untuk selalu bersikap baik dan menghormati orang tua, seburuk apa pun tampilan fisik dan sifatnya. Hal ini ditunjukkan dengan sikap dan ajaran Dayang Sumbi terhadap Sangkuriang untuk menyayangi, menghargai dan mengormati Si Tumang sebagai ayah meski berwujud anjing.

4. Larangan untuk melakukan perkawinan sedarah/ incest taboo, terutama perkawinan antara ibu dan anak. Itulah sebabnya mengapa Dayang Sumbi berusaha menggagalkan rencana anaknya untuk menikahi dirinya. Kendati Sangkuriang sebagai anak diceritakan tidak mengetahui Dayang Sumbi sebagai ibunya sendiri.

Di samping nilai-nilai di atas, sebenarnya masih banyak lagi nilai lain yang bisa dijadikan pembelajaran dalam legenda Gunung Tangkuban Parahu. Namun sayang, legenda yang seolah hilang pamor dan semakin terkikis akibat perkembangan zaman tersebut, tidak lagi menjadi cerita utama dalam kehidupan modern saat ini.

Bukan tak mungkin, jika suatu saat legenda yang menjadi bagian dari budaya masyarakat Sunda, khususnya Bandung akan hilang jika tak dilestarian dan disosialisasikan pada generasi baru. bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai kebudayaannya? “Jika bukan kita siapa lagi, jika tidak sekarang kapan lagi!” Seharusnya tidak hanya menjadi slogan dalam upaya pelestarian budaya.

You might like

1 Comment

  1. Perlu pemimpin daerah yang punya kecintaan pada budaya,khususnya gubernur..saat ini yg punya citarasa budaya sunda ya kang dedy mulyadi bupati purwakarta.urang sunda kudu waspada permana tingal tina usaha2 luar nu rek ngaruksak budaya sunda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *