Menelusuri Jejak Peninggalan Di Bandung Pada Jaman Sejarah dan Pra Sejarah

7 Likes Comment
Gunung Padang Cianjur

Berbicara mengenai Bandung pada jaman sejarah dan pra sejarah, tidak terlepas dari kawasan yang banyak ditemukan artefak-artefak pendukungnya. Selain tinggalan masa kolonial,  kawasan Dago Pakar juga menyimpan peninggalan dari jaman sejarah dan pra sejarah. Disepanjang aliran Sungai Cikapundung, banyak ditemukan sejumlah artefak penanda kehidupan manusia di masa silam.

Kota Bandung dibelah oleh Sungai Cikapundung. Sungai yang dipercaya telah menopang sendi kehidupan masyarakat Kota Bandung sejak ribuan tahun yang lalu. Dago Pakar menjadi salah satu kawasan aliran Sungai Cikapundung. Di tempat ini terdapat sebuah air terjun atau yang dalam Bahasa Sunda dikenal dengan nama curug. Nama curug di kawasan Dago Pakar ini adalah Curug Dago.

Awal abad ke-20, Curug Dago pernah disambangi oleh raja besar Thailand, yaitu Rama V Pangeran Chulalongkorn. Terdapat sebuah batu yang berdiri tepat dialiran Sungai Cikapundung sebagai sebuah prasasti pertanda Pangeran Chulalongkorn pernah mengunjungi tempat ini di tahun 1902. 27 tahun kemudian, sang cucu Rama VII mengulang perjalanan kakeknya, yaitu Pangeran Chulalongkorn, hingga batu prasasti pun bertambah menjadi dua.

Jauh sebelum kedatangan Raja Thailand, Dago Pakar telah dihuni oleh manusia jaman prasejarah sejak ribuan tahun silam. Indikasinya telah bayak ditemukan oleh para peneliti asing yang pencarian arkeologinya masih terus dilakukan oleh para arkeolog di Bandung, salah satunya dari Badan Arkeolog Bandung.

Kawasan Dago Pakar dianggap sebagai kawasan yang sangat penting dikalangan arkeolog. Hal ini dikarenakan di masa lalu para peneliti asing telah menemukan berbagai tinggalan arkeologi di kawasan ini. Dari hasil penelitian yang dilakukan, penemuan yang paling tua ditemukan sangatlah banyak, salah satunya penemuan pada masa berburu dan meramu makanan. Hasil penemuan tidak hanya itu, ada juga penemuan pada masa yang terbilang cukup baru, yaitu masa neolitikum.

Masa neolitikum di kawasan Dago Pakar ini ditandai dengan banyaknya ditemukan batu-batu yang telah diasah untuk dijadikan alat-alat kehidupan sehari-hari. Dari berbagai penemuan yang telah dihasilkan, dapat disimpulkan bahwa kasawan Dago Pakar menjadi salah satu kawasan yang telah dihuni oleh para manusia masa pra sejarah secara berkelanjutan.

Kehidupan Bandung pada jaman sejarah dan pra sejarah memang lebih banyak berada disekitar aliran sungai. Dago Pakar sendiri memiliki aliran sungai yang dikenal sebagai Sungai Cikapundung. Dulu, pada masa pra sejarah Aliran Sungai Cikapundung ini sangatlah jernih dan bersih. Disamping itu, kontur alam disekitar sungai ini sangatlah baik untuk ditinggali. Tidak heran jika banyak penemuan-penemuan yang berhubungan dengan kehidupan masa pra sejarah disekitar sungai.

Berbagai tinggalan pra sejarah tersebar di aliran Sungai Cikapundung ini. kapak, pisau, mata panah, menjadi tanda bahwa dulu kawasan tersebut digunakan sebagai tempat hunian manusia jaman pra sejarah di kawasan Bandung Utara tersebut. Umumnya, temuan-temuan di sekitar aliran Sungai Cikapundung tersebut berupa peralatan dari jenis bebatuan. Para ahli menduga bahwa kawasan ini dulunya digunakan sebagai bengkel senjata.

Tidak banyak orang yang tahu, nama pakar dari Dago Pakar berasal dari kata pakarangan, yang dalam Bahasa Sunda berarti senjata. Tinggalan manusia purba di sekitar Dago Pakar ini bisa dilihat di Museum Ir. H. Djuanda, salah satunya adalah piranti obsidian yang sempat menjadi polemic.

Koleksi di museum ini cukup beragam, ada koleksi dari benda di masa paleolitikum dan masa-masa lainnya. Ada juga berbagai macam benda masa purba berupa batu yang dahulu digunakan sebagai penunjang dalam kehidupan sehari-hari. Banyak koleksi-koleksi yang dihasilkan dari penelitian di Dago Pakar ini, seperti cetakan logam, gelang perunggu, artefak-artefak obsidian, hingga mata tombak yang terbuat dari bahan perunggu.

Artefak obsidian diketahui tersebar disepanjang dataran tinggi Bandung. Kalangan peneliti bersilang pendapatn mengenai asal usul temuan ini. Sebagian meyakininya sebagai tinggalan masa neolitikum, peneliti lainya bersikeras meyakini temuan tersebut berasal dari masa mesolitikum.

Di tempat berbeda, tepatnya di Museum Geologi Bandung terdapat satu pojokan bernama Pojok Bandung menggambarkan proses bentuknya dataran tinggi Bandung. Dalam pengembangannya, Danau Bandung sudah ada sejak 135 ribu tahun yang lalu.

Danau ini terbentuk dari letusan Gunung Api Sunda yang dalam strukturnya terbagi menjadi dua, yaitu Danau Bandung sebelah timur dan Danau Bandung di sebelah barat. Dari letusan gunung tersebut, banyak penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh peneliti, berupa tulang, batu, hingga fosil-fosil. Berbagai penemuan ini seakan membuktikan bahwa wilayah Bandung ini berasal dari danau raksasa yang diketahui bernama Situ Hiang.

Berbagai penelitian mengenai Bandung pada jaman sejarah dan pra sejarah ini tentunya sangat menarik untuk ditelusuri. Ingin tahu lebih jelasnya? Simak artikel lainnya.

Baca juga : Tempat Wisata di Bandung Utara untuk Menyegarkan Mata dan Pikiran

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *