Jembatan Layang Pasopati, Modernitas dan Cermin Hilangnya Jalur Hijau Bandung

Jembatan Layang Pasopati

Jembatan Layang Pasopati | Foto : pikiran-rakyat.com

Jembatan Layang Pasopati atau Fly Over Pasopati merupakan jalan layang terpanjang di Kota Bandung yang dibangun di era milenium ke dua. Seperti halnya pembangunan sarana dan fasilitas kota, Fly Over Pasopati pun menuai kontroversi dari berbagai pihak.

Kontroversi yang paling dirasakan dan berdampak hingga kini adalah hilangnya jalur hijau di sepanjang Jaan Suci (Surapati-Cicaheum). Bayangkan, Bandung kehilangan ratusan atau ribuan pohon yang tegak berdiri di sepanjang jalur ini. Penebangan pohon di sepanjang jalur Suci, mungkin menjadi cerita lucu tersendiri.

Panjang Jembatan Layang Pasopati

Panjang Jembatan Layang Pasopati | Foto : kaskus.co.id

Bisa dibayangkan, berapa jarak antara Cicaheum dan Gasibu yang dikatakan sebagai area terdampak atas pembangunan jembatan ini. Kelucuan yang terjadi tentu saja berkaitan erat dengan pembabatan pohon yang jauh dari area pembangunan.

Kawasan Muararajeun misalnya, sebagai area yang tak begitu jauh dari Jembatan Layang Pasopati. Konon pembabadan pohon dilakukan sebagai upaya awal dari pelebaran jalan. Pelebaran jalan tentu saja bertujuan untuk antisipasi kemacetan.

Pelebaran Jalan di Sepanjang Jembatan Layang Pasopati

Pelebaran Jalan di Sepanjang Jembatan Layang Pasopati | Foto : rgalung.wordpress.com

Kenyataannya, pelebaran jalan seharusnya tak perlu membabat pohon, sebab keberadaan pohon di sepanjang jalur ini, masih berada jauh dari bibir jalan. Kenyataan lainnya adalah pelebaran jalan tersebut sama sekali tak bisa menanggulangi masalah kemacetan di wilayah ini.

Hal serupa terjadi di sepanjang jalur Cicaheum menuju perempatan Cikutra. Jalur rindang ini, sebenarnya memiliki lebar jalan yang sudah cukup. Jika pun terjadi pelebaran kiranya tak perlu memangkas pohon.

Dibawah Jembatan Layang Pasopati

Dibawah Jembatan Layang Pasopati | Foto : infobdg.com

Artinya cukup memangkas ruas trotoar yang memang terbilang lebar saat itu. Sayangnya, pelebaran dengan pemangkasan jalan telah terjadi. Hasilnya, pelebaran jalan tetap tak bisa mengurai kemacetan. Lebih parahnya lagi, pelebaran jalan seolah-olah malah terlihat menyediakan lapangan parkir liar bagi kendaraan-kendaraan pribadi.

Di satu ruas, di wilayah Cimuncang. Bahu jalan justru digunakan sebagai garasi terbuka bagi pemilik angkot. Jika melintasi area ini pada malam hari, kita pasti akan menemukan supir atau pemilik angkot yang sedang memandikan angkotnya di pinggir jalan.

Jembatan Pasopati

Jembatan Pasopati | Foto : anggrainicraft.blogspot.com

Sungguh, sebuah ironi tersendiri dari dampak pembangunan Jalan Layang Pasopati Kota Bandung. Ironi yang bisa dijadikan cermin terhadap pembangunan ke depan yang lebih berwawasan lingkungan.

Meski demikian, tak bisa dipungkiri juga jika keberadaan jalan layang ini telah berhasil membuat perubahan besar untuk kota Bandung di berbagai sektor kehidupan. Satu hal yang paling terasa adalah perkembangan ekonomi dan wisata di Kota Bandung yang tak bisa lepas dari Jembatan Layang Pasopati sebagai Ikon Modernitas Kota Bandung.

Leave a Reply