Meningkatkan Budaya Baca Tulis Lewat Peranan Komunitas Kebukit

Peranan Komunitas Kebukit

Peranan Komunitas Kebukit | Foto : www.pikiran-rakyat.com

Peranan Komunitas Kebukit (Kelola Buku Kita), bisa dikatakan sangat mulia. Sebab tujuan utamanya adalah meningkatkan budaya baca tulis atau literasi dalam lingkup masyarakat kecil. Sebagaimana diketahui bahwa baca tulis dan berhitung (calistung) umumnya diajarkan di sekolah-sekolah formal dan keluarga. Namun, kegiatan tersebut umumnya bersifat didaktif (mengajari/menggurui) yang menyebabkan anggota didik cepat bosan dan kehilangan minat untuk membaca di waktu senggang atau waktu libur.

Minat terhadap literasi atau baca tulis sebenarnya sangat penting, sebab siapa pun tahu bahwa semua informasi bisa didapatkan melalui buku, karenanya hadir sebuah istilah yang menyatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Singkatnya buku adalah alat utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Atas kerangka berpikir seperti itulah, sekelompok anak muda Bandung berusaha untuk menyebarkan sebuah visi ‘membaca dan belajar bisa dilakukan di mana saja’.

Meningkatkan Budaya Baca Tulis Lewat Peranan Komunitas Kebukit

Wujud Kongkret

Untuk mewujudkan impiannya, mendirikan perpustakaan mini adalah salah satu peranan komunitas Kebukit (Kelola Buku Kita). Uniknya, perpustakaan yang didirikan tidak seperti perpustakaan lain pada umumnya, sebab didirikan di pangkalan ojeg yang kemudian dikenal sebagai “Pangkalan Ojek Pintar” yang pertama kali didirikan di Jalan Cikutra Kota Bandung.

Kebukit dan Rumah Zakat

Beberapa orang yang telah mengenal komunitas ini, mungkin akan langsung teringat pada Rumah zakat. Hal itu wajar, sebab komunitas ini didirikan oleh beberapa orang relawan dari Rumah Zakat. Karena Rumah Zakat sangat berkaitan dengan kegiatan islaminya, maka komunitas ini tak akan lepas dari kegiatan yang berhubungan dengan cara hidupo Islam.

Semisal, Islam mengajarkan umatnya agar tidak melakukan suatu kegiatan yang tak berguna dan membuang waktu. Ajaran itu diterapkan dalam visi kegiatan Kebukit dalam Pangkalan Ojek Pintar dengan sebuah sudut pandang yang menarik. Kenyataannya bahwa tukang ojek umumnya mengisi waktu luang mereka dengan kegiatan yang kurang bermanfaat seperti mengobrol, merokok, tiduran, ngopi, nongkrong, main kartu atau main catur. Kegiatan seperti itu, tentu saja tak akan menghasilkan manfaat lain, bahkan seringkali terjerumus pada perbuatan yang dilarang agama semisal, bergunjing hingga judi.

Untuk mengubah perilaku seperti itu dalam kegiatan yang lebih positif, maka membaca adalah cara terbaik. Sebab dengan membaca, tukang ojek tersebut akan mendapat informasi dan pengetahuan baru yang belum pernah diketahuinya. Atau bisa juga menambah dan memperdalam pengetahuan jika mereka membaca buku sesuai dengan minatnya. Inilah yang menjadi satu hal penting dalam peranan Komunitas kebukit Bandung.

Add Comment