Dongeng Ciung Wanara Bukan Sekedar Dongeng Belaka

Prasasti Ciung Wanara

Prasasti Ciung Wanara | Foto : www.kabar3.com

Dongeng Ciung wanara bukan sekedar dongeng, sebab situs cerita ini memang benar adanya di Bandung. Situs legenda tentu menarik untuk dikunjungi. Bukan hanya untuk memastikan kebenaran, namun pengunjung juga seakan menjadi salah satu tokoh dalam cerita.

Dongeng Ciung Wanara Bukan Sekedar Dongeng Belaka

Ciung Wanara

Terkisahlan seorang anak raja yang dibuang. Pembuangan dilakukan oleh ibu tirinya yang iri terhadap ibu kandung si anak. Memang raja memiliki dua orang permaisuri, dan sama-sama memiliki anak laki-laki. Bayi yang dibuang tersebut ditemukan oleh pasangan kakek dan nenek. Uniknya saat membuang disertakan sebutir telur ayam. Setelah tujuh tahun dipelihara anak tersebut makin pandai, dan telur ayam telah menjadi seekora ayam jantan yang kuat. Demi mencari jati dirinya, si anak itu kemudian pergi ke kota dan turu menyabung ayamnya. Ayam si anak ini selalu menang. Puncaknya adalah terebutnya kerajaan galuh lewat sabung ayam. Anak tersebut adalah ciung wanara yang dikenal sebagai raja adil dan bijaksana.

Cerita rakyat atau dongeng ciung wanara bukan sekedar dongeng. Hal tersebut diperkuat dengan ditemukannya situs legenda ciung wanara di daerah karangkamulyan. Di tempat ini tersebar banyak bebatuan yang dipercaya merupakan situs reruntuhan Kerajaan Galuh. Jadilah tempat ini merupakan salah satu laboratorium arkeologi. Meski tidak dijadikan tempat wisata, area seluas 25 hektar ini menjamu penggunjungnya dengan pemandangan alam yang indah. Tempat parkir yang luas juga tersedia dan pepohonan siap merindangkan suasana.

Terdapat beragam batu yang memiliki nama dan fungsi tertentu di situs ini, diantaranya:

  • Pangcalikan. Berupa batu bertingkat-tingkat berwarna putih serta berbentuk segi empat, yang berfungsi untuk tempat peribadatan.
  • Sanghyang Bedil. Sebuah ruangan dikelilingi tembok berukuran 6.20 x 6 meter. Dalam ruangan ini terdapat dua buah menhir. Dahulu tempat ini dipergunakan untuk pertanda adanya suatu peristiwa besar. Tandanya berupa letusan. Namun sekarang tidak lagi terjadi.
  • Penyabungan Ayam. Di tempat ini dipercaya merupakan tempat sabung ayam antara Ciung Wanara dan Raja. Selain dipergunakan untuk sabung ayam, digunakan pula untuk pemilihan raja.
  • Lambang Peribadatan. Batu ini ada yang menganggap bagian dari kemuncak, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai fragmen candi. Bentuknya cukup indah dengan pahatan khas hindu di sekelilingnya.
  • Panyandaran. Berbentuk menhir dan dolmen yang dikelilingi batu. Dipercaya merupakan tempat ibu Ciung wanara melahirkan. Tempat ini juga dipergunakan ibu pda dongeng ciung wanara untuk memulihkan kesehatannya.
  • Cikahuripan. Bentuknya adalah sumur yang berada di pertemua dua sungai, Sungai Citanduy dan sungai Cimuntur. Sumur ini lambang kehidupan dan airnya tidak pernah kering sepanjang tahun.
  • Makam Adipati Panaekan. Tidak ada tanda khusus hanya berupa batu kali bersusun tiga. Dipati Panaekan adalah raja Galuh Gara Tengah, yang mendapat gelar Adipati dari Sultan Agung Raja Mataram.

Makin yakin bukan, bahwa dongeng ciung wanara bukan sekedar dongeng. Agendakan melihat situs ini saat pergi ke bandung, untuk menambah referensi sejarah peradaban Indonesia.

Leave a Reply