Keunikan Wayang Golek, Seni Tradisional Khas Sunda

Keunikan Wayang Golek

Keunikan Wayang Golek | Foto : bobmerdeka.com

Salah satu seni tradisional khas Sunda adalah wayang. Wayang merupakan salah satu warisan nenek moyang bangsa. Banyak suku di Indonesia yang memiliki wayang khas masing-masing. Suku Sunda juga mempunyai salah satu pertunjukan wayang khas yang disebut dengan nama Wayang Golek. Wayang yang masih mengambil latar belakang cerita Ramayana dan Mahabharata ini masih tetap digemari hingga saat ini.

Wayang purwa ini berasal dari gagasan Bupati Bandung tahun 1840-an, Dalem Karang Anyar dengan Ki Darman, seorang dalang wayang kulit asal Tegal dan tingal di Cibiru. Dalem Karang Anyar ini memodifikasi wayang dengan memakai bahan dasar kayu lame dan ditatah lebih halus. Wayang menjadi berbentuk lebih mirip manusia dibandingkan dengan wayang kulit.

Keunikan Wayang Golek, Seni Tradisional Khas Sunda

Seni tradisional khas Sunda kemudian dikenal dengan sebutan wayang golek. Wayang golek berbentuk seperti boneka manusia yang bisa digerakkan oleh dalang. Keturunan Ki Darman bahkan hingga saat ini masih banyak yang membuat wayang golek. Beberapa tempat pembuatan wayang golek antara lain di Sukabumi, Bogor, Karawang, Indramayu, Garut, Cirebon, Ciamis, Cimareme, Ciparay, dan Cibiru.

Wayang golek mengambil cerita dari epos Ramayana dan Mahabharata yang sudah disesuaikan dengan budaya nusantara. Pagelaran wayang golek biasanya dimulai pukul sepuluh malam hingga dini hari. Pertunjukkan dini dipentaskan di tanah lapang atau sebuah gedung. Pertunjukkan seni tradisional khas Sunda ini biasanya dimainkan dalam acara-acara tertentu, seperti ulang tahun sebuah lembaga atau kota, sunatan, hingga perkawinan.

Berbeda dengan wayang kulit, wayang golek tidak memakai layar dan lampu sorot untuk membentuk bayangan. Golek yang berupa boneka tiga dimensi bisa ditonton secara langsung tanpa memakai layar. Pagelaran wayang golek dipimpin oleh dalang yang memainkan wayang dan menuturkan cerita. Selain itu tentu saja ada gamelan Sunda yang mengiringi pertunjukkan seni tradisional khas Sunda tersebut.

Pagelaran wayang golek memakai Bahasa Sunda dengan pakem-pakem yang agak berbeda dengan wayang kulit. Beberapa pakem adegan yang ada dalam wayang golek adalah : babak unjal, nagara sejen, patepah, perang gagal, panakawan, perang kembang, perang raket, dan tutug. Wayang golek juga kadang dipakai untuk meruwat, membersihkan, seperti halnya wayang kulit. Ruwatan merupakan salah satu upacara untuk menghindarkan seorang anak dari pengaruh buruk Bathara Kala yang membawa kesialan dalam hidup.

Saat ini pertunjukan seni tradisional khas Sunda lebih banyak dimaksudkan untuk hiburan saja. Wayang sendiri sudah banyak dibeli untuk keperluan koleksi dan penghias rumah. Pertunjukkan tradisional masih banyak memiliki penggemar, walau kebanyakan dari generasi tua. Generasi muda sudah banyak yang terasingkan dari budaya tradisional ini. Perlu usaha yang lebih agar seni tradisional ini tetap lestari dan digemari oleh berbagai macam lapisan masyarakat.

 

Leave a Reply